Blog Tentang Cerpen Persahabatan
Bertemunya Aku dan Dia
Di senja ini, kulewati
hari – hariku yang sunyi. Seminggu sudah aku tinggal di desa ini dikarenakan
ayahku yang harus pindah tugas dari kotaku sebelumnya. Memang sih, suasana di
desa ini lebih damai dan nyaman. Namun entah kenapa aku masih belum merasakan
kebahagiaan yang seperti dulu kurasakan. Aku merasa seperti seorang pelayar
yang terdampar di suatu pulau, tanpa ada teman seorang pun. Sebenarnya orang
tuaku sudah mulai terbiasa dengan keadaan, suasana, dan berbagai macam latar
belakang masyarakat sini. Memang aku akui mereka sangat supel sehingga hanya
dalam hitungan hari mereka sudah banyak kenalan. Bahkan beberapa tetangga kami sudah bermain
ke rumah dengan membawa berbagai macam bingkisan.
Tidak sepertiku yang sama sekali tak
punya teman, walau sudah seminggu disini. Terlalu banyak kenangan yang terekam
dalam ingatanku. Betapa aku sangat mencintai kota kecilku dulu. Teman yang
humoris dan selalu ada di setiap momenku. Para tetangga yang selalu bekerja
sama dan sangat guyub. Hingga sekumpulan anak kecil yang selalu menghiburku dan
membuatku tertawa lepas tatkala melihat berbagai tingkah mereka.
“Billaa... ayo pulang! Sudah sore,
ayo bantu mama!” teriak mama yang sontak menghentikan langkah dan lamunanku.
Entah sudah berapa lama mama berada di belakangku. Di saat aku sedang
membersihkan rumah, tiba – tiba terdengar suara keributan dari arah depan
rumahku. Langsung aku berlari ke teras rumah dan melihat apa yang terjadi.
Ternyata seorang lelaki yang mungkin tak jauh selisih umurnya di atasku sedang
jadi pembicaraan orang – orang. Dia naik sepeda motor layaknya pembalap motogp
yang sedang tancap gas di sirkuit. Tak peduli siapa kanan kirinya dan dimana
dia mengendarai sepeda motornya, namun hanya fokus pada kecepatan kendaraannya.
Mungkin hal inilah yang membuat beberapa
warga disini tidak menyukainya. “Maaf Bu, barusan ada apa ya kok terdengar
ramai dari rumah?” tanyaku pada seorang ibu yang memakai daster warna biru.
“Itu lho neng, si Dilon. Dia mah selalu bikin olah di desa ini. Gak pernah
sekali pun dia menyapa warga sini. Sebenarnya sih kalau ibu liat mah dia itu tidak
sombong. Cuman gak tahu deh, kenapa dia gak pernah mau ngomong dengan orang
sini. Mungkin karena dia merasa anaknya pak kades kali neng, jadi merasa
seperti yang punya desa ini. Liat deh neng tampilannya. Sudah rambutnya
gondrong, selalu pake jeans belel bolong – bolong, kuping tindikan, dan yang
parah lagi mah selalu ngebut di jalanan desa ini. Waaahh... maap ya neng jadi
ngelantur ni bibi ngomongnya,“ jawab si ibu dengan panjangnya dan tak lupa
logat Sundanya. “oh gak papa kok Bu. Trus kenapa tak ada seorang pun yang menegurnya
tadi?” tanyaku semakin penasaran. “Beribu – ribu kali kita mah sudah
mengingatkan, menegur hingga melaporkannya ke pak kades malah. Tapi kayaknya
dia cuek banget neng. Dia itu mah anaknya sangat tertutup dan kurang suka
bergaul dengan teman sebayanya. Makanya dia selalu sendiri kayak mencari
pelampiasan seperti itu,” jelas ibu tadi yang ternyata namanya Bu Siti. Aku pun
hanya mengangguk dan ber-oh ria, segera aku berpamitan pada Bi Siti dan kembali
untuk membersihkan rumah.
Keesokan harinya aku disuruh mama
untuk membeli lauk dan sayur di pasar. Ketika aku pulang, aku tidak sengaja
melihat Dilon yang jatuh dari sepeda motornya karena ugal - ugalan di jalan. Aku langsung menghampirinya dan
membantunya untuk berdiri. “Kamu tidak apa- apa?” tanyaku. Dia pun tak menjawab
pertanyaanku dan langsung meninggalkanku sendiri. Seringkali aku bertemu
dengannya, bahkan hampir 10 kali dan ketika dia melihatku dia langsung
meninggalkanku. Aku semakin dibuat penasaran olehnya. Dan memang kulihat dia
tidak pernah begaul dengan orang yang seumuran dengannya. Aku heran mengapa dia
tidak pernah bergaul dan setiap dia melihatku pasti langsung kabur dariku.
Dilon denganku memang sangat bertolak belakang dan jauh berbeda denganku bak
langit dan bumi,
Setiap malam aku sering berjalan –
jalan menyusuri taman belakang, entah kenapa aku selalu ingin mencari tahu
tentang Dilon. Setelah Bu Siti menceritakannya padaku sore hari itu. Entah ada
dorongan apa aku selalu ingin berusaha agar Dilon mau kenal denganku. Dan Allah
telah mendengarkan curhatanku pada-Nya. Sekarang Dilon sedang duduk di bangku
taman dan membaca novel. Betapa terkejutnya dia melihatku sampai – sampai
terlonjak dari duduknya dan pergi menjauh dariku. “Tunggu!!! Kenapa kamu
menghindar dariku? Aku hanya ingin berkenalan denganmu”, diapun berhenti dan
menoleh ke belakang . “Hai, namaku Billa, kamu namanya siapa?” kataku, dia
hanya diam dan melihatku, “Aku hanya ingin mengenalmu, apa tidak boleh?”. Dia
masih betah melihatku tanpa mengeluarkan sepatah katapu dari mulutnya. “Baiklah
mungkin kamu tidak nyaman dengan kehadiranku, maaf bila aku sering
mengganggumu, aku hanya ingin kenal lebih dekat denganmu´akupun
meninggalkannya, namun tidak sampai lima langkah, dia pun memanggil dan
menahanku, “Billaa, maaf aku tidak terbiasa mempunyai teman” katanya. Mungkin
memang Dilon benar benar tidak berengalaman dalam berteman. “Nama kamu?”
tanyaku basa basi agar tidak canggung. Dilon pun menjawab namanya dan bertanya
“kenapa kamu tertarik untuk berkenalan denganku? Tanyanya, “Ya entahlah aku
tertarik untuk menjadi temanmu, memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Atau kamu
tidak nyaman berteman denganku?” desakku penasaran. “Bukan begitu, kamu adalah
satu – satunya temanku saat ini, aku hanya heran disaat semua menjauhiku,
kenapa kamu mau berteman denganku?”. “Tidak semua orang itu mempunyai pikiran
dan prinsip yag sama, prinsipku dari dulu hingga sekarang tidak pernah
membedakan teman, bagiku teman adalah segalanya, disaat senang ataupun susah.
Mereka selalu ada untuk kita, meghibur ataupun membahagiakan kita dan bagiku
aku merasa nyaman bila didekatmu, setiap ada orang yang membicarakanmu aku
selalu tertarik dan ingin tahu semua darimu. Entah apa kata orang kalau kamu
aneh, bahaya dan harus dihindari, aku malah lebih semangat agar bisa menjadi
temamu” jelasku panjag lebar. Dia pun hanya ber - ria, dan setelah aku mencoba
berkenalan dengannya mungkin bisa dibilang kesan pertamaku bertemu dengannya
adalah canggung . ya mungkin karena ini adalah pertama klinya dia berteman setelah sekian lamanya. “Oh iya kayaknya kamu
baru ya disini? Aku baru baru saja meihat wajahmu disdesa ni. Tanyanya
memecahkan keheningan diantaara kita. Ohh ya
aku baru sebulan tinggal disini dikarenakan ayahku yang harus
melaksanakan tugas dari atasannya, oh ya tadi kamu bilang aku adalah teman
pertamamu setelah sekian lama. Memangnya kenapa? Kayaknya kamu benar – benar
trauma?´tanyaku semakin penasaran dengannya. “Mungkin memang sudah saatnya
untuk terbuka denganmu, dulu aku pernah mempunyai dua orang sahabat yang selalu
ada untukku. Namun, setelah beberapa tahun mereka mengalami kecelakaan yang
sangat tragis, itu juga pada saat kita masih di bangku SD. Kita bermain lari
larian dan aku berlari menangkap mereka, tetapi mereka tidak sadar kalau ada
mobil dengan kecepatan diatas rata rata yang akan menabrak mereka dan akhirnya
mereka tertabrak dan meninggal dunia. Dan sejak saat itu lah aku dijuluki
sebagai anak pembawa sial lah, pembuat masalah lah dan bahkan dijuluki sebagai
pembunuh, karena kejadian itulah aku bertekad untuk tidak bergaul dengan
siapapun karena aku merasa takut mereka akan bernasib sama seperti kedua
temanku yang dulu dan aku menjadi liar juga susah diatur hingga sekarang”
jelasnya. Tak terasa sebulir air matapun jatuh karena aku tidak menyangka kalau
seorang Dilon pernah mengalami kejadian sepahit itu dan aku berjanji pada
diriku sendiri agar aku selalu ada disampingnya baik dalam keadaan suka maupun
duka. Dan sejak malam itulah aku resmi menjadi sahabat barunya . jujur aku
tidak menyangka benar benar bisa menjadi sahabatnya namun apa yang tidak
mumgkin di dunia ini, jika kita mau berusaha keras maka hasilpun tidak akan
mengecewakan karena usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Lima tahun kemudiann.......
Lima
tahun sudah aku menjalani persahabatan yang erat dengan Dilon. Dan memang suatu
hubungan tidak mungkin berjalan dengan mulus tanpa adanya suatu konflik atau
masalah. Bahkan kita sernig disangka pacaran karena kedekatanku dengan Dilon.
Dia juga mau untuk berhenti kebut kebutan dijalanan.
Sekarang
adalah ulang tahunku yang ke-22 tahun dan Dilon ingin mengajakku ke suatu
tempat yang aku tidak tahu dimana. Satu jam sudah aku menunggunya di taman
belakang namun tak kunjung ada kabar. Ponselnya mati, entah harus menunggu
berapa lama lagi namun aku tetap berpikir positif bahwa Dilon akan baik baik
saja. Tapi entah kenapa hatiku mengatakan bahwa sedang terjadi sesuatu dengan
Dilon . tiba tiba datanglah mama dan papaku yang menyuruhku pulang kerumah.
Tentu saja aku menolak untuk pualng namun kata papa ini ada sangkut mautnya dengan Dilon, akhirnya aku pun mau
diajak pulang. Dan sesampainya dirumah aku merasa terkejut karena ada mama dan
papa Dilon namun aku tidak mengetahui keberadaan Dilon. Aku melihat raut wajah
mama Dilon yang sangat sedih dan seperti telah menangis lama. Papa dari Dilon pun
angkat bicara “Bil ini ada kado dari Dilon, kamu buka ya!”. Aku pun langsung
membuka kotak tersebut dan ternyata isinya adalah sebuah kalung yang bernama
DILA yaitu singkatan nama Dilon dan namaku. Aku pun juga membaca surat ucapan
ulang tahunnya unttukku, namun aku masih tidak faham dimana sebenarnya Dilon,
mengapa tidak memberikan kadonya sendiri kepadaku hatiku sudah tidak bisa
berfikir jernih dan akhirnya mama pun menjelaskan semuanya padaku bahwa Dilon
sudah meninggal lantaran tertabrak oleh mobil yang dikendarai oleh supir yang
sedang mengantuk dan selama ini Dilon mengidap penyakit tumor otak. Akupun
langsung menangis karena tak percaya mengapa secepat ini Allah mengambil Dilon
dari kita semua, aku sangat menyanginya dia benar benar bagaikan kakak, sahabat,
dan bahkan orang tua bagiku. Mengapa Dilon mennggal di hari yang indah ini. Dan
akhirnya aku faham mungkin memang ini sudah takdir Dilon untuk meninggalkan
dunia ini dan Allah sangat menyayangi Dilon sehingga Allah mengambil nyawanya
namun Dilon tetaplah Dilon, sahabat sejatiku yang tak akan terlupakan seumur
hidupku. Terima kasih karena selama ini telah mewarnai dan melengkapi hidupku
walaupun hanya sementara tapi kenangan kenangan indah bersamamu tidak akan
pernah kulupakan selamanya Dilon. Semoga kamu tenang di alam sana aku hanya
mendoakanmu disini. GOODBYE DILON PRATAMA!.
TAMAT
TAMAT
Wow
BalasHapusHehe
HapusGood job👌
BalasHapusToo
HapusGood job kak!
BalasHapusMakasih kak
HapusGood kak:)
BalasHapusMakasih kakak
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNice kakak
BalasHapusBagus kak
BalasHapusAku ketemu kakak aja udah seneng bangett😆
BalasHapusWalah walah. Baper nih akunya kak :*
HapusSukses Terus!!!
BalasHapusIya kakak juga
HapusWah... Bagus banget kak......
BalasHapusIya kak. Semoga bermanfaat ya
HapusMakasih kak
BalasHapus